HEADLINEPEMPROV KALIMANTAN TENGAH

Banjir Mengintai, Karhutla Masih Jadi Ancaman di Kalteng

263
×

Banjir Mengintai, Karhutla Masih Jadi Ancaman di Kalteng

Sebarkan artikel ini
Kegiatan pemantauan potensi Karhutla di Kalteng.

PALANGKA RAYA – Curah hujan tinggi yang mengguyur Kalteng dalam beberapa pekan terakhir menimbulkan dua wajah bencana sekaligus. Sebagian wilayah mulai terendam banjir, sementara potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum sepenuhnya reda.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBPK Kalteng, Alpius Patanan, menegaskan bahwa meski hujan deras kerap turun, ancaman karhutla tetap harus diwaspadai.

Wilayah rawan masih berada di bagian tenggara dan selatan provinsi, yang didominasi lahan gambut.

“Personel di lapangan kami dorong untuk tetap siaga. Jangan sampai terlena oleh turunnya hujan, karena titik api bisa muncul sewaktu-waktu,” kata Alpius, pada Senin (8/9/2025).

Data per 7 September 2025 mencatat hanya satu titik hotspot terpantau tanpa adanya kejadian karhutla.

Namun, secara akumulatif sejak 1 Januari 2025, jumlah hotspot sudah mencapai 1.793 titik dengan 485 kali kejadian kebakaran dan luas lahan terbakar sekitar 720,81 hektare.

Untuk memperkuat pengendalian, 77 pos lapangan (poslap) penanggulangan karhutla disiagakan di seluruh Kalteng.

Status siaga darurat karhutla juga diberlakukan berdasarkan SK Gubernur Kalteng Nomor 188.44/288/2025, berlaku sejak 29 Juli hingga 20 Oktober 2025.

Beberapa kabupaten pun mengeluarkan kebijakan serupa, antara lain Sukamara, Kotawaringin Timur, dan Kotawaringin Barat.

Kepala Pelaksana BPBD Kalteng, Ahmad Toyib menambahkan, peningkatan kapasitas personel menjadi perhatian utama.

“Kami rutin menggelar latihan, simulasi, hingga pengarahan dari tim profesional. Kesiapan ini tidak hanya untuk menghadapi karhutla, tetapi juga kebakaran pemukiman yang sering terjadi,” jelasnya.

Toyib juga mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam pencegahan. “Jangan lakukan pembakaran lahan kering. Jangan pula membuang puntung rokok sembarangan. Sedikit kelalaian dapat memicu bencana besar,” tegasnya.

Menurutnya, kondisi cuaca yang tidak menentu menimbulkan tantangan ganda. “Hujan membantu meredam potensi api, tetapi juga bisa menyebabkan banjir. Karena itu, kewaspadaan terhadap seluruh potensi bencana harus berjalan beriringan,” pungkas Toyib. (red/adv)​

+ posts
Baca Juga  DPRD Kalteng Tekankan Pemerataan Digitalisasi untuk Dorong Pembangunan Daerah