AKADEMIKAHEADLINEPEMPROV KALIMANTAN TENGAH

Dari Kembang Sepatu hingga Medali Internasional, Enam Murid SMAN 2 Palangka Raya Buktikan Kearifan Lokal Bisa Mendunia

33
×

Dari Kembang Sepatu hingga Medali Internasional, Enam Murid SMAN 2 Palangka Raya Buktikan Kearifan Lokal Bisa Mendunia

Sebarkan artikel ini

PALANGKA RAYA – Tanaman kembang sepatu yang selama ini mudah ditemui di lingkungan masyarakat ternyata mampu menjadi pintu bagi lahirnya sebuah karya penelitian hingga menembus kompetisi internasional.

Enam murid SMAN 2 Palangka Raya mengembangkan pemanfaatan daun kembang sepatu menjadi gagasan penelitian dan berhasil meraih Silver Medal atau Medali Perak pada ajang 8th International Science and Invention Fair (ISIF) 2026.

Keenam murid itu yakni Raisya Arina Zaidan, Cut Nadia Putri Raya, Vania Cassandra Joycelin, Riris Esther Sitorus, Yasmine Batrisya Agata, dan Gilang Natanael Tanggara. Mereka mengangkat penelitian berjudul From Local Wisdom to Scientific Evidence: Validation of Hibiscus rosa-sinensis as a Natural First-Aid Treatment for Fever.

Ajang ISIF 2026 berlangsung di Balai Purnomo Prawiro, Universitas Indonesia, Depok, pada 12-17 Oktober 2026. Dalam kompetisi internasional ini, tim SMAN 2 Palangka Raya mempresentasikan hasil penelitian sekaligus menjelaskan gagasan, metode, dan temuan yang mereka kembangkan di hadapan dewan juri.

Raisya Arina Zaidan mengatakan, penelitian itu berawal dari pengetahuan tradisional masyarakat yang telah mengenal pemanfaatan tanaman kembang sepatu. Dari hal sederhana yang ditemukan di lingkungan sekitar, mereka kemudian mencoba mengembangkan gagasan melalui proses penelitian.

“Dalam kompetisi ini, saya bersama tim membawa penelitian tentang pemanfaatan daun kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) sebagai kompres untuk membantu penanganan demam. Penelitian ini berangkat dari pengetahuan tradisional yang ada di masyarakat, kemudian kami coba kaji melalui pendekatan ilmiah untuk melihat potensinya lebih lanjut,” ungkap Raisya.

Baca Juga  Bantuan Sosial Pemkab Barsel Sasar Keluarga Rentan di Jenamas

Pengembangan gagasan dari kearifan lokal menjadi penelitian ilmiah memberikan pengalaman baru bagi keenam murid. Mereka tidak hanya dituntut memahami materi penelitian, tetapi juga harus mampu menyampaikan hasil kajian dan menjawab pertanyaan yang diajukan para juri selama kompetisi.

Bagi Raisya, keberhasilan meraih Medali Perak menjadi pengalaman yang memberikan banyak pelajaran. Keikutsertaan dalam forum internasional membuka kesempatan baginya untuk menambah wawasan, mengasah kemampuan penelitian, sekaligus berinteraksi dalam lingkungan kompetisi yang mempertemukan peserta dari berbagai latar belakang.

“Puji syukur, penelitian yang kami bawakan berhasil meraih Silver Medal. Tentunya ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya, karena bisa belajar banyak hal baru sekaligus membawa nama Kalteng di tingkat internasional,” tuturnya.

Pencapaian itu juga menjadi dorongan bagi Raisya untuk terus mengembangkan minat dalam penelitian.

Ia berharap pengalaman yang diperoleh bersama tim dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda agar tidak mengabaikan pengetahuan lokal yang tumbuh di tengah masyarakat.

Baca Juga  Sistem Merit Perkuat Reformasi Birokrasi Pemerintah Barito Selatan

“Saya berharap karya ini bisa mendorong generasi muda untuk lebih peduli terhadap pengetahuan lokal dan berani mengembangkannya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Pencapaian ini juga menjadi motivasi bagi saya untuk terus belajar, berkarya, dan mencoba hal-hal baru ke depannya. Semoga saya bisa terus membawa nama Kalteng ke tingkat yang lebih luas,” tambahnya.

Bagi keenam murid itu, penelitian kembang sepatu bukan hanya menjadi proyek untuk mengikuti perlombaan. Prosesnya memperlihatkan bagaimana pengetahuan yang berkembang di lingkungan masyarakat dapat menjadi titik awal untuk melahirkan pertanyaan ilmiah dan kemudian dikembangkan melalui penelitian.

Kehadiran mereka dalam ajang internasional juga membawa nama SMAN 2 Palangka Raya dan Kalteng ke ruang yang lebih luas. Prestasi itu sekaligus memperlihatkan kesempatan yang dapat diperoleh pelajar ketika memiliki keberanian untuk mengembangkan gagasan dari lingkungan sekitar menjadi sebuah karya ilmiah.

Tidak hanya membawa gagasan penelitian, perjalanan Raisya di sejumlah forum ilmiah juga diwarnai dengan upaya memperkenalkan kebudayaan Kalteng. Sebelum mengikuti ISIF 2026, ia terlibat dalam Bali International Science Fair (BISF) 2026 yang digelar di Denpasar, Bali.

Dalam kegiatan BISF 2026, Raisya bersama murid SMAN 2 Palangka Raya lainnya mendapat kesempatan tampil pada seremoni pembukaan. Mereka membawakan Tari Bahalai sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kesenian yang merepresentasikan kekayaan budaya Kalteng kepada peserta kegiatan.

Baca Juga  Bahuang Super Cup Perkuat Sportivitas dan Persaudaraan Generasi Muda

Pada forum yang sama, Raisya juga menjadi bagian dari tim penelitian berjudul Is Life After Graduate Phenomenon Real for High School Student. Keterlibatan dalam kegiatan ilmiah dan kebudayaan itu melengkapi pengalaman Raisya dalam membawa karya serta identitas daerah ke forum yang lebih luas.

Rangkaian pencapaian itu menunjukkan perjalanan para pelajar dalam memadukan penelitian, kreativitas, dan pengenalan potensi daerah. Dari tanaman yang tumbuh di lingkungan masyarakat, lahir sebuah gagasan yang kemudian membawa enam murid SMAN 2 Palangka Raya meraih penghargaan di panggung internasional. (adv)​

+ posts