HEADLINEPEMPROV KALIMANTAN TENGAH

Jejak Baru Peradaban Dayak, Huma Betang Kalteng Dibangun untuk Generasi Mendatang

14
×

Jejak Baru Peradaban Dayak, Huma Betang Kalteng Dibangun untuk Generasi Mendatang

Sebarkan artikel ini

PALANGKA RAYA – Langkah besar dalam pelestarian budaya Dayak resmi dimulai. Gubernur Kalteng Agustiar Sabran melakukan pemancangan tiang perdana pembangunan Huma Betang di kawasan eks Kantor Dinas Kehutanan Kalteng, Jalan Imam Bonjol, Palangka Raya, Kamis (23/7/2026).

Pembangunan Huma Betang menjadi salah satu agenda strategis Pemprov dalam memperkuat identitas budaya daerah sekaligus memperkenalkan kekayaan warisan Dayak ke tingkat nasional dan internasional.

Kehadirannya diharapkan menjadi ruang bersama yang merepresentasikan semangat Huma Betang, yakni hidup berdampingan dalam keberagaman, menjunjung kebersamaan, dan mempererat persatuan.

Agustiar Sabran menyampaikan, Huma Betang tidak hanya dibangun sebagai rumah adat, melainkan simbol peradaban yang mencerminkan jati diri masyarakat Kalteng. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi fondasi penting dalam pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan.

“Huma Betang harus menjadi rumah besar bagi seluruh masyarakat, tempat bertemunya budaya, persatuan, dan semangat membangun daerah,” ucapnya.

Ia menambahkan, bangunan ini dirancang menjadi simbol pemersatu seluruh sub suku Dayak di Pulau Kalimantan dan Borneo. Selain menjadi pusat kegiatan adat dan budaya, Huma Betang juga diproyeksikan sebagai lokasi penyelenggaraan seminar, forum internasional, pertunjukan seni, hingga pusat edukasi kebudayaan.

Baca Juga  Puncak Kemarau, BPB-PK Kalteng Intensifkan Patroli Udara dan Darat Cegah Karhutla

Dengan ukuran mencapai 80 x 170 meter dan kapasitas lebih dari 10 ribu orang, Huma Betang akan menjadi salah satu bangunan budaya terbesar di Kalteng. Fasilitas yang disiapkan meliputi galeri budaya, museum, mess kontingen, ruang pertemuan, dan area pendukung lainnya yang dapat dimanfaatkan masyarakat maupun tamu dari berbagai daerah.

Keunikan lain tampak dari penggunaan kayu ulin yang mendominasi sekitar 90 persen konstruksi bangunan. Material khas Kalimantan itu dikenal memiliki daya tahan tinggi terhadap perubahan cuaca dan serangan rayap, sehingga mampu memberikan nilai historis sekaligus ketahanan jangka panjang.

Agustiar berharap proses pembangunan berjalan sesuai target, baik dari sisi waktu, mutu, maupun tata kelola.

Ia optimistis Huma Betang akan menjadi landmark baru yang mengangkat citra Kalteng sebagai pusat kebudayaan Dayak.

Baca Juga  Perempuan Kalimantan Tengah Perkuat Peran Strategis Dalam Pembangunan Daerah Berkelanjutan

“Ini bukan hanya kebanggaan masyarakat Kalteng, tetapi juga aset budaya bangsa yang dapat memperkenalkan Indonesia kepada dunia melalui kekayaan tradisi Dayak,” katanya.

Di sisi lain, Sekda Kalteng Linae Victoria Aden menjelaskan bahwa proyek ini merupakan tindak lanjut atas komitmen Gubernur dalam menghadirkan pusat pelestarian budaya yang representatif di ibu kota Kalteng.

Huma Betang akan dibangun di atas lahan eks Kantor Dinas Kehutanan Kalteng dengan memadukan arsitektur rumah panggung Dayak dan teknologi konstruksi modern. Perpaduan itu dilakukan untuk menjaga keaslian nilai budaya tanpa mengesampingkan aspek keamanan dan ketahanan bangunan.

Pembangunan dilaksanakan secara bertahap menggunakan APBD Kalteng. Untuk Tahap I Tahun Anggaran 2026, dialokasikan anggaran sebesar Rp39,2 miliar dengan waktu pelaksanaan selama 173 hari kalender oleh PT Terajana Graha Utama. Sementara pengawasan proyek dilakukan PT Nidisa Estetika selama 240 hari kalender.

Pemprov menargetkan keseluruhan pembangunan rampung pada Tahun Anggaran 2027. Ke depan, Huma Betang diharapkan menjadi pusat pelestarian budaya, destinasi wisata unggulan, serta ruang kolaborasi yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Baca Juga  Pelatihan Tiga Hari Bekali Guru Kelola Lahan Suboptimal Secara Berkelanjutan

“Pembangunan Huma Betang akan dilaksanakan secara transparan, akuntabel, dan profesional. Kami memastikan setiap tahapan berjalan sesuai ketentuan agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang,” ujar Linae.

Kehadiran Huma Betang menjadi penanda bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui dokumentasi dan seremoni, tetapi juga diwujudkan dalam pembangunan yang mampu menghubungkan sejarah, identitas, dan masa depan Kalteng dalam satu ruang yang utuh. (adv)​

+ posts