EKONOMI & BISNISHEADLINEPEMKOT PALANGKA RAYAPEMPROV KALIMANTAN TENGAH

Inflasi Tahunan Kalteng Naik, Kapuas Catat Angka Tertinggi Oktober

23
×

Inflasi Tahunan Kalteng Naik, Kapuas Catat Angka Tertinggi Oktober

Sebarkan artikel ini

PALANGKA RAYA – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) di wilayah setempat mencapai 5,19 persen pada Oktober 2026. Angka tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 2,73 persen. Kenaikan harga berbagai komoditas pada sejumlah kelompok pengeluaran menjadi faktor yang memengaruhi perkembangan inflasi tersebut.

Kepala BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Toto Haryanto Silitonga SSi, M.Eng., menyampaikan perkembangan tersebut dalam Rilis Berita Resmi Statistik (BRS) periode Oktober 2026 di ruang Vicon Kantor BPS Kalteng, Jalan Kapten Pierre Tendean Nomor 6, Kota Palangka Raya. Berdasarkan hasil pemantauan harga di empat kabupaten/kota, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kalteng mencapai 114,28, meningkat dari 108,64 pada Oktober 2025. Secara bulanan atau month-to-month (m-to-m), inflasi tercatat 0,68 persen, sedangkan inflasi tahun kalender atau year-to-date (y-to-d) mencapai 3,91 persen. Hal tersebut disampaikan pada Senin (2/11/2026).

Dari empat wilayah pemantauan IHK di Kalimantan Tengah, Kabupaten Kapuas mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 5,87 persen dengan IHK 115,29. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Sukamara dengan inflasi 5,60 persen dan IHK 116,63. Sementara itu, Kota Palangka Raya mengalami inflasi 4,89 persen dengan IHK 113,59, sedangkan Sampit mencatat inflasi terendah sebesar 4,72 persen dengan IHK 113,51. Data tersebut menunjukkan seluruh wilayah pemantauan mengalami kenaikan harga secara tahunan.

Baca Juga  Pemkab Barsel Salurkan Bantuan Pangan bagi Warga Terdampak Karhutla

Berdasarkan kelompok pengeluaran, makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi tahunan dengan tingkat inflasi mencapai 8,33 persen dan andil sebesar 3,25 persen. Kelompok ini mengalami peningkatan indeks dari 112,05 pada Oktober 2025 menjadi 121,38 pada Oktober 2026. Sejumlah komoditas yang memberikan kontribusi cukup besar antara lain beras dengan andil 0,83 persen, ikan nila 0,43 persen, cabai rawit 0,28 persen, ikan patin 0,16 persen, serta minyak goreng 0,14 persen.

Selain kelompok makanan, transportasi juga memberikan pengaruh terhadap perkembangan inflasi di Kalteng. Kelompok tersebut mengalami inflasi tahunan sebesar 6,29 persen dengan andil 0,59 persen. Kenaikan harga bensin menjadi salah satu faktor utama dengan andil 0,33 persen, disusul solar dan pelumas atau oli mesin yang masing-masing memberikan andil 0,09 persen. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan harga tidak hanya dipengaruhi kebutuhan konsumsi rumah tangga, tetapi juga biaya transportasi dan mobilitas masyarakat.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya tercatat mengalami inflasi 4,80 persen dengan andil 0,30 persen. Salah satu komoditas yang memberikan kontribusi dominan adalah emas perhiasan dengan andil 0,22 persen. Sementara itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran mengalami inflasi 3,29 persen dengan andil 0,36 persen. Ikan bakar memberikan kontribusi 0,07 persen, sedangkan kue kering berminyak menyumbang 0,06 persen terhadap inflasi tahunan.

Baca Juga  Evaluasi Kelembagaan Palangka Raya Targetkan Organisasi Tepat Fungsi

Kenaikan harga juga terjadi pada sejumlah kelompok pengeluaran lainnya. Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami inflasi 3,16 persen dengan andil 0,13 persen. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi 2,38 persen dengan andil 0,32 persen. Selanjutnya, kelompok pakaian dan alas kaki mengalami inflasi 2,16 persen dengan andil 0,09 persen, sedangkan kelompok kesehatan mencatat inflasi 2,09 persen dengan andil 0,05 persen.

Adapun kelompok pendidikan mengalami inflasi 1,81 persen dengan andil 0,06 persen, diikuti kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,59 persen dengan andil 0,02 persen. Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mencatat tingkat inflasi paling rendah, yakni 0,42 persen dengan andil 0,02 persen. Secara keseluruhan, seluruh 11 kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks secara tahunan. Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa tekanan harga berlangsung pada berbagai sektor kebutuhan masyarakat, meskipun tingkat kenaikan dan kontribusinya berbeda-beda.

Sementara itu, perkembangan harga secara bulanan pada Oktober 2026 memperlihatkan sejumlah komoditas memberikan andil inflasi maupun deflasi. Daging ayam ras menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar dengan andil 0,15 persen, disusul ikan nila 0,08 persen, ikan gabus 0,07 persen, dan cabai rawit 0,04 persen. Kacang panjang dan tomat masing-masing memberikan andil 0,03 persen. Sebaliknya, minyak goreng menjadi komoditas dengan andil deflasi terbesar sebesar 0,03 persen, diikuti bahan bakar rumah tangga, emas perhiasan, dan angkutan udara yang masing-masing memberikan andil deflasi 0,02 persen.

Baca Juga  Pemprov Kalteng dan Pemko Palangka Raya Benahi Tata Kelola Organisasi

Apabila dibandingkan dengan Oktober 2025, perkembangan inflasi Kalteng pada Oktober 2026 menunjukkan peningkatan dari 2,73 persen menjadi 5,19 persen. Inflasi bulanan juga naik dari 0,52 persen menjadi 0,68 persen, sedangkan inflasi tahun kalender meningkat dari 1,88 persen menjadi 3,91 persen. Secara regional, Kabupaten Kapuas menjadi wilayah dengan inflasi tahunan tertinggi, sementara Sampit mencatat angka terendah. Perkembangan tersebut menegaskan bahwa kenaikan harga komoditas, terutama kelompok makanan, minuman, dan tembakau, memberikan pengaruh dominan terhadap pembentukan inflasi di Kalimantan Tengah. (Red/ADV)

+ posts