AKADEMIKADESA MAJUHEADLINEPEMKOT PALANGKA RAYAPEMPROV KALIMANTAN TENGAH

Kolaborasi UPR dan BNF Tingkatkan Pemantauan Kebakaran Lahan Gambut

7
×

Kolaborasi UPR dan BNF Tingkatkan Pemantauan Kebakaran Lahan Gambut

Sebarkan artikel ini
FOTO Ist.: Hasil Drone Thermal merupakan hasil kerja sama UPR melalui UPA Pengelolaan Lahan Gambut (PLG)-CIMTROP dengan BNF.

Bu lPALANGKA RAYA – Universitas Palangka Raya (UPR) bersama Borneo Nature Foundation (BNF) memperkuat upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) gambut melalui pemanfaatan drone thermal untuk mendeteksi sumber panas pascakebakaran di kawasan sekitar kampus. Teknologi tersebut digunakan untuk mengidentifikasi anomali suhu yang berpotensi menunjukkan masih adanya bara api di bawah permukaan gambut sehingga dapat segera diverifikasi oleh tim di lapangan.
Pemanfaatan drone thermal merupakan hasil kerja sama UPR melalui UPA Pengelolaan Lahan Gambut (PLG)-CIMTROP dengan BNF dalam mengembangkan sistem pemantauan kebakaran berbasis teknologi. Kamera thermal memungkinkan pemetaan suhu dari udara sehingga lokasi yang masih menyimpan panas dapat dikenali lebih cepat dibandingkan pengamatan visual semata. Hal ini disampaikan Simon Husson, Head of the Board of Trustees Yayasan Borneo Nature Indonesia sekaligus CEO Borneo Nature Foundation International, baru-baru ini.
Menurut Simon Husson, karakteristik kebakaran gambut yang mampu membara di bawah permukaan membuat proses penanganan tidak berhenti ketika api di permukaan telah berhasil dipadamkan. Teknologi thermal menjadi salah satu instrumen yang membantu tim menentukan lokasi prioritas untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan dan tindakan penanganan secara lebih efektif.
“Teknologi harus mampu menjawab persoalan nyata di lapangan. Dalam menghadapi kebakaran gambut, kemampuan mendeteksi sumber panas secara lebih cepat akan membantu tim menentukan lokasi yang perlu diperiksa dan ditangani. Namun, teknologi akan memberikan manfaat yang lebih besar ketika dipadukan dengan pengetahuan ilmiah, pengalaman lapangan dan kolaborasi yang kuat,” ujar Simon Husson.
Selain mendeteksi anomali suhu, penggunaan drone thermal juga menjadi bagian dari penguatan sistem pemantauan pascakebakaran. Data yang diperoleh dari udara dimanfaatkan sebagai petunjuk awal untuk mempersempit area yang harus diverifikasi di lapangan sehingga proses pendinginan lanjutan dapat dilakukan secara lebih cepat, terarah, dan efisien.
Simon Husson menilai kolaborasi antara BNF dan UPR melalui UPA PLG-CIMTROP memiliki nilai strategis karena menggabungkan kapasitas penelitian, pemahaman ekosistem gambut, dan inovasi teknologi dalam satu sistem kerja yang saling melengkapi.
“Kolaborasi seperti ini bukan hanya tentang sebuah perangkat drone. Yang lebih penting adalah bagaimana data dan pengetahuan yang dihasilkan dapat digunakan untuk melindungi ekosistem gambut, mendukung masyarakat, dan memperkuat upaya pencegahan kebakaran di masa depan,” katanya.
CEO Yayasan Borneo Nature Indonesia (YBNI/BNF Indonesia), Anton Nurcahyo, Ph.D., menambahkan bahwa kerja sama tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas pemantauan berbasis data, termasuk pengembangan protokol, pelatihan operator, hingga pemanfaatan data thermal untuk mendukung pencegahan, pemadaman lanjutan, dan evaluasi pascakebakaran.
“Kerja sama penggunaan drone thermal ini menunjukkan bagaimana teknologi dapat langsung mendukung kebutuhan penanganan kebakaran gambut. Informasi thermal dari udara membantu tim menentukan area yang perlu segera diperiksa, sementara tindakan di lapangan tetap dilakukan berdasarkan verifikasi kondisi sebenarnya,” ujar Anton Nurcahyo.
Sementara itu, Kepala UPA Pengelolaan Lahan Gambut-CIMTROP UPR, Dr. Ir. Adi Jaya, M.Si., IPU., ASEAN Eng., menjelaskan bahwa data thermal dari udara tidak dapat berdiri sendiri karena tetap harus dipadukan dengan verifikasi menggunakan sensor termal di permukaan lahan. Pendekatan tersebut membentuk sistem pemeriksaan berlapis untuk memastikan lokasi benar-benar aman dari sisa panas yang berpotensi memicu kebakaran kembali.
“Drone thermal membantu kita melihat pola dan anomali panas dari udara, sedangkan sensor termal di darat digunakan untuk memastikan kondisi pada titik yang dicurigai. Informasi ini penting untuk menentukan apakah lokasi sudah benar-benar aman atau masih memerlukan pendinginan lanjutan,” tandas Adi. (Red/Adv)

Baca Juga  DAD dan Gerdayak Turun Tangan, Ribuan Bingkisan Dibagikan untuk Pejuang Karhutla
+ posts