HEADLINENASIONALPEMPROV KALIMANTAN TENGAH

OMC Diperkuat, Pembasahan Lahan Karhutla Kalteng dan Kalbar Terus Digenjot

12
×

OMC Diperkuat, Pembasahan Lahan Karhutla Kalteng dan Kalbar Terus Digenjot

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) terus memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai bagian dari langkah terpadu mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat dan Kalteng.

Operasi ini diarahkan untuk meningkatkan pembasahan lahan, khususnya kawasan gambut, sekaligus membantu upaya pemadaman di lapangan. Dengan kelembapan lahan yang terjaga, potensi api kembali muncul maupun meluas di wilayah rawan diharapkan dapat ditekan.

Direktur Pengendalian Kebakaran Lahan KLH/BPLH Dasrul Chaniago mengatakan OMC menjadi salah satu intervensi penting dalam penanganan karhutla. Namun, operasi modifikasi cuaca tidak dapat berjalan sendiri dan harus didukung berbagai langkah pengendalian di lapangan.

“Operasi Modifikasi Cuaca merupakan intervensi penting dalam penanganan karhutla, khususnya untuk membantu pembasahan lahan gambut dan mendukung kerja tim pemadam di lapangan. Namun, OMC bukanlah upaya yang berdiri sendiri. Pelaksanaannya harus berjalan bersama dengan patroli, pemeriksaan titik panas, pemadaman darat, pembasahan gambut, pengelolaan tata air, pelibatan masyarakat, pengawasan badan usaha, dan penegakan hukum,” ujar Dasrul, baru-baru ini.

Baca Juga  Kabut Asap Karhutla Paksa Universitas Palangka Raya Terapkan PJJ

Di Kalimantan Barat, OMC dilaksanakan pada 28 Agustus hingga 4 September 2026 dengan total 10 sorti penerbangan dan penggunaan 8.000 kilogram natrium klorida (NaCl). Sementara di Kalteng, operasi berlangsung sejak 26 Agustus hingga 5 September 2026. Hingga 4 September, sebanyak sembilan sorti penerbangan telah dilaksanakan dengan penggunaan 7.200 kilogram NaCl.

Penyemaian awan pada setiap penerbangan dilakukan berdasarkan analisis kondisi atmosfer, pertumbuhan awan potensial, arah dan kecepatan angin, persebaran titik panas, serta kebutuhan pembasahan pada wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi. Analisis itu menjadi dasar untuk menentukan sasaran penyemaian agar pelaksanaan OMC dapat memberikan hasil optimal.

Dampak operasi mulai terlihat pada 4 September 2026, ketika hujan turun di sejumlah wilayah sasaran. Di Kalimantan Barat, hujan terpantau terjadi di Putussibau, Kubu Raya, dan Kota Pontianak. Sementara di Kalteng, hujan mengguyur Kotawaringin Barat.

Turunnya hujan di wilayah sasaran diharapkan dapat meningkatkan kelembapan lahan, membantu proses pendinginan area yang terbakar, sekaligus memperkecil peluang api berkembang di kawasan yang masih memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Baca Juga  DAD dan Gerdayak Turun Tangan, Ribuan Bingkisan Dibagikan untuk Pejuang Karhutla

Dasrul menegaskan, penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama lintas sektor. Karena itu, OMC harus terus berjalan beriringan dengan patroli, pemantauan titik panas, pemadaman melalui jalur darat, pembasahan gambut, pengelolaan tata air, serta pengawasan terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

Dalam pelaksanaannya, OMC melibatkan KLH/BPLH, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, TNI Angkatan Udara, pemerintah daerah, serta unsur pendukung lainnya. Koordinasi lintas instansi dilakukan untuk memastikan operasi berlangsung aman dan tepat sasaran.

Pemerintah juga memastikan keberlanjutan operasi di dua wilayah tersebut. OMC di Kalimantan Barat dilanjutkan dengan dukungan BNPB pada 3–9 September 2026. Sementara keberlanjutan OMC di Kalteng mendapat dukungan Kementerian Kehutanan untuk menjaga kesinambungan penanganan karhutla di tengah kondisi cuaca yang masih dinamis.

Baca Juga  Pemprov Kalteng Pertimbangkan Inovasi Busa Sabun Pemadaman Karhutla

Evaluasi juga terus dilakukan KLH/BPLH bersama instansi terkait dengan memanfaatkan berbagai data, mulai dari jumlah sorti penerbangan, penggunaan bahan semai, sebaran curah hujan, perkembangan titik panas, kualitas udara, hingga hasil pemantauan di lapangan. Personel dan sarana penanggulangan karhutla tetap disiagakan di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

“Operasi terus dilaksanakan dan kewaspadaan tidak boleh menurun. Tujuan utama kita adalah mencegah kebakaran meluas, melindungi kesehatan masyarakat, menjaga kualitas udara, serta memastikan penanganan karhutla berlangsung cepat, terpadu, dan berkelanjutan,” tandas Dasrul. (red/*)

+ posts