DPRD BARITO UTARAHEADLINE

Henny Kecam Perundungan Anak, Minta Penanganan Komprehensif

14
×

Henny Kecam Perundungan Anak, Minta Penanganan Komprehensif

Sebarkan artikel ini
FOTO Ist.: Wakil Ketua II DPRD Barito Utara Henny Rosgiaty Rusli

MUARA TEWEH – Maraknya kasus perundungan atau bullying terhadap anak dan remaja mendapat perhatian serius dari Wakil Ketua II DPRD Barito Utara, Henny Rosgiaty Rusli. Ia menilai tindakan kekerasan, baik secara fisik, verbal maupun psikologis, tidak dapat lagi dipandang sebagai kenakalan remaja biasa karena berpotensi memberikan dampak panjang terhadap kondisi dan perkembangan korban.

“Tindakan tegas serta penanganan komprehensif dari hilir ke hulu harus segera direalisasikan. Perundungan dapat meninggalkan trauma psikologis yang mendalam dan berisiko memengaruhi kondisi korban dalam jangka panjang,” kata Henny, baru-baru ini.

Menurut Henny, persoalan perundungan membutuhkan perhatian bersama karena dampaknya tidak hanya dirasakan ketika tindakan tersebut terjadi, tetapi dapat berlanjut hingga memengaruhi kepercayaan diri, hubungan sosial, dan perkembangan emosional anak. Karena itu, penanganannya harus dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan lingkungan pendidikan, keluarga, serta masyarakat.

Baca Juga  Waspada Kabut Asap, Naruk Saritani Minta Warga Batasi Aktivitas di Luar Rumah

“Sekolah memang memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak. Namun, peran orang tua juga sangat krusial karena keluarga merupakan fondasi utama dalam pembentukan karakter dan kematangan emosi anak,” ujarnya.

Henny menegaskan bahwa anak tidak serta-merta lahir dengan perilaku sebagai perundung. Menurutnya, perilaku tersebut dapat terbentuk dari berbagai faktor lingkungan, termasuk kurangnya pengawasan, minimnya keteladanan, hingga komunikasi yang tidak berjalan baik di dalam keluarga. Kondisi itu perlu menjadi perhatian agar pencegahan dapat dilakukan sejak dini.

“Anak-anak tidak lahir sebagai perundung. Perilaku tersebut sering kali muncul akibat kurangnya pengawasan, minimnya keteladanan atau ruang komunikasi yang tersumbat dalam keluarga,” ungkap Henny.

Baca Juga  Jaga Sungai dan Sumber Ikan, DPRD Barito Utara Dukung Gerakan Stop Illegal Fishing

Ia meminta orang tua tidak menyerahkan sepenuhnya pendidikan karakter anak kepada sekolah. Keluarga dinilai harus menjadi tempat pertama bagi anak untuk belajar mengenai empati, toleransi, penghormatan terhadap orang lain, serta memahami batas-batas perilaku yang dapat menyakiti orang lain.

“Pencegahan bullying harus dimulai dari keluarga. Orang tua perlu meluangkan waktu mendengarkan cerita anak tanpa langsung menghakimi agar anak merasa aman untuk menyampaikan pengalaman yang dialaminya,” jelasnya.

Selain membangun komunikasi terbuka, Henny menilai pengawasan terhadap aktivitas anak di ruang digital juga perlu diperkuat. Perkembangan media sosial membuka kemungkinan terjadinya perundungan dalam bentuk siber atau cyberbullying sehingga orang tua perlu memahami aktivitas digital anak sekaligus memberikan edukasi mengenai penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.

Baca Juga  Akses Sekolah Terhambat Sungai, DPRD Kalteng Soroti Infrastruktur Pedalaman

“Orang tua juga harus peka terhadap perubahan sikap anak, seperti perubahan pola tidur, menurunnya nafsu makan, atau munculnya ketakutan untuk pergi ke sekolah. Tanda-tanda tersebut jangan diabaikan karena bisa menjadi indikasi anak sedang menghadapi masalah,” tandas Henny. (Red/Adv)

+ posts