HEADLINEPEMPROV KALIMANTAN TENGAH

Karhutla Kalteng Terus Dikendalikan, 372 Kejadian Ditangani dan 4.004 Pasien Dilayani

31
×

Karhutla Kalteng Terus Dikendalikan, 372 Kejadian Ditangani dan 4.004 Pasien Dilayani

Sebarkan artikel ini

PALANGKA RAYA – Pemprov Kalteng terus memperkuat pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di berbagai wilayah seiring masih adanya potensi kebakaran pada musim kemarau.

Penanganan dilakukan secara terpadu dengan mengerahkan kekuatan personel, peralatan pemadaman darat dan udara, pelayanan kesehatan, hingga langkah pencegahan agar kebakaran tidak meluas.

Hingga saat ini, Satgas Bencana Karhutla Kalteng bersama seluruh unsur terkait telah menangani 372 kejadian dengan total luasan lahan terbakar mencapai 63,20 hektare.

Penanganan di lapangan dilakukan melalui Posko Komando Penanganan Darurat Bencana Karhutla. Operasi melibatkan TRC BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, pemadam kebakaran, Masyarakat Peduli Api (MPA), relawan, serta OPD di lingkungan Pemprov Kalteng.

Sinergi lintas sektor menjadi bagian penting dalam mempercepat respons setiap kali terjadi kebakaran. Lebih dari 40 OPD turut mengambil peran sesuai tugas dan kewenangan, baik dalam pemadaman, pembasahan, penanganan dampak asap, pelayanan masyarakat, maupun dukungan logistik dan operasional di lapangan.

Pada 13-14 September 2026, tim gabungan kembali melakukan penanganan terhadap sejumlah kejadian Karhutla yang terjadi di Kota Palangka Raya, Gunung Mas, Kotawaringin Timur, dan Pulang Pisau.

Petugas tidak hanya melakukan pemadaman, tetapi juga melanjutkan proses pendinginan atau mopping up setelah api berhasil dikendalikan. Tahapan ini dilakukan untuk memastikan tidak ada bara api yang masih tersisa dan berpotensi memunculkan kebakaran baru.

Baca Juga  Bantuan Air Bersih Bantu Warga Sei Gohong

Pengendalian juga diperkuat melalui pembangunan sumur bor serta pembuatan sekat bakar atau firebreak di kawasan rawan. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat kesiapsiagaan sekaligus memperlambat pergerakan api apabila terjadi kebakaran di sekitar kawasan yang memiliki potensi penyebaran tinggi.

Kondisi geografis dan karakteristik lahan gambut juga menjadi tantangan dalam penanganan Karhutla. Sejumlah kawasan sulit dijangkau melalui jalur darat sehingga operasi udara menjadi salah satu strategi yang digunakan untuk mempercepat pemadaman.

Helikopter water bombing dikerahkan dari Palangka Raya dan Sampit untuk menjangkau lokasi prioritas. Operasi udara diarahkan ke sejumlah kawasan dengan tingkat kerawanan tinggi, antara lain Pulang Pisau, Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, serta kawasan Taman Nasional Sebangau.

Penggunaan armada udara diharapkan dapat mempercepat pembasahan area yang terbakar, terutama pada lokasi yang sulit dijangkau petugas melalui akses darat. Pemadaman dari udara juga dilakukan untuk membantu mencegah api meluas ke area lain.

Selain operasi darat dan udara, Pemprov Kalteng bersama BNPB, BMKG, dan BRIN juga memperkuat upaya pengendalian melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).

TMC menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah yang membutuhkan pembasahan. Tambahan curah hujan diharapkan dapat membantu menjaga kelembapan lahan, terutama kawasan gambut, sehingga potensi kebakaran meluas dapat ditekan.

Baca Juga  Agustiar Sabran Tegaskan Pemerintah Hadir Dampingi Warga Karhutla

Penanganan Karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman api. Dampak asap terhadap kesehatan masyarakat juga menjadi perhatian pemerintah. Dinas Kesehatan Kalteng bersama fasilitas pelayanan kesehatan dan rumah sakit daerah telah menangani 4.004 kasus atau pasien gangguan pernapasan/ISPA yang berkaitan dengan paparan asap Karhutla.

Untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat, pemerintah juga membagikan puluhan ribu masker, mengoperasikan posko kesehatan bergerak, serta menyediakan oksigen gratis di sejumlah lokasi yang membutuhkan.

Pelayanan kesehatan dan dukungan bagi masyarakat terus dilakukan seiring upaya pengendalian kebakaran. Langkah ini diharapkan dapat membantu warga menghadapi dampak asap sekaligus memastikan akses pelayanan kesehatan tetap tersedia selama kondisi kualitas udara terdampak Karhutla.

Penguatan penanganan juga ditandai dengan penetapan Status Tanggap Darurat Bencana Karhutla oleh Gubernur Kalteng yang berlaku mulai 31 Agustus hingga 29 September 2026.

Status tanggap darurat menjadi dasar untuk memperkuat koordinasi dan mobilisasi seluruh unsur dalam menghadapi Karhutla. Pemerintah bersama aparat, relawan, dunia usaha, dan masyarakat terus diarahkan bergerak secara terpadu agar setiap kejadian dapat ditangani secepat mungkin.

Baca Juga  APBD Kalteng 2027 Tembus Rp5,7 Triliun, Pemprov Perkuat Anggaran untuk Pelayanan Publik

Di tengah upaya pemadaman dan pencegahan, peran masyarakat tetap menjadi bagian penting dalam mengendalikan Karhutla.

Pemprov Kalteng mengingatkan warga agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi lingkungan yang mudah terbakar.

Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Informasi yang diterima lebih awal dapat membantu petugas melakukan penanganan sebelum api berkembang dan menjangkau area yang lebih luas.

Kolaborasi pemerintah, aparat, masyarakat, relawan, dan berbagai pihak diharapkan mampu menjaga efektivitas pengendalian Karhutla. Selain melindungi lingkungan, langkah bersama ini juga penting untuk menjaga kesehatan, keselamatan, dan aktivitas masyarakat Kalteng dari dampak kebakaran hutan dan lahan. (adv)​

+ posts