EKONOMI & BISNISNASIONALPEMPROV KALIMANTAN TENGAH

Inflasi Kalteng Terkendali, Harga Bawang Merah Naik Akibat Minim Pasokan

357
×

Inflasi Kalteng Terkendali, Harga Bawang Merah Naik Akibat Minim Pasokan

Sebarkan artikel ini
FOTO: Kepala BPS Kalteng, Agnes Widiastuti

PALANGKARAYA – Harga bawang merah dan beberapa komoditas lainnya di Kalimantan Tengah mengalami kenaikan signifikan selama empat bulan terakhir, dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan dan faktor cuaca ekstrem.

Menurut Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, kenaikan ini memberikan kontribusi pada inflasi provinsi yang tercatat sebesar 1,03 persen year-on-year (y-on-y) pada Desember 2024.

“Produksi yang menurun dan pasokan yang terbatas menjadi faktor utama kenaikan harga bawang merah di Kalimantan Tengah,” ungkapnya, Kamis (02/01/2025).

Baca Juga  Agustiar Sabran Kumpulkan Kepala OPD, Perkuat Sinergi dan Efisiensi Anggaran Pembangunan Kalteng

Ia menjelaskan bahwa curah hujan tinggi juga berdampak pada harga beberapa komoditas hortikultura dan ikan air tawar, yang mengalami kenaikan akibat terganggunya distribusi dan pasokan.

Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat kontribusi terbesar terhadap inflasi bulanan sebesar 0,51 persen dan inflasi tahunan sebesar 0,65 persen.

Baca Juga  Evaluasi MBG di Kalteng, BGN Tegaskan Pengawasan Ketat dan Penguatan Sinergi Daerah

“Komoditas yang paling berkontribusi terhadap inflasi bulan lalu adalah ikan gabus, bawang merah, bayam, dan ikan nila,” ujarnya lagi.

Agnes juga menyampaikan bahwa beberapa komoditas, seperti angkutan udara, mentimun, dan ikan saluang, memberikan andil terhadap deflasi pada Desember 2024.

Ia menuturkan, “Untuk inflasi tahunan, emas perhiasan, sigaret kretek mesin, dan minyak goreng memberikan kontribusi signifikan.”

Baca Juga  Pemprov Kalteng Perkuat Pengawasan MBG, Pastikan Mutu dan Transparansi Pelaksanaan

Berdasarkan data BPS, inflasi m-to-m juga tercatat di beberapa daerah, seperti Sampit sebesar 0,36 persen, Palangkaraya 0,24 persen, Sukamara 0,51 persen, dan Kapuas 0,90 persen.

“Kami akan terus memantau dinamika harga agar masyarakat mendapat informasi yang transparan dan terpercaya,” tandas Agnes. (RED/*)