EKONOMI & BISNISHEADLINEPEMKOT PALANGKA RAYAPEMPROV KALIMANTAN TENGAH

Puncak Panen Jagung Kalteng Bergeser ke Bulan September

118
×

Puncak Panen Jagung Kalteng Bergeser ke Bulan September

Sebarkan artikel ini
FOTO Ist.: Kepala BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti.

PALANGKARAYA – Puncak panen jagung di Kalimantan Tengah tahun 2025 mengalami pergeseran signifikan. Jika tahun 2024 puncak panen terjadi pada Februari, maka tahun ini bergeser ke September dengan luas panen tertinggi mencapai 1,38 ribu hektare.

Kepala BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menyebutkan bahwa pergeseran musim tanam ini erat kaitannya dengan pola cuaca dan dinamika iklim lokal yang berubah. “Petani menyesuaikan waktu tanam agar sesuai dengan kondisi hujan dan ketersediaan air di lapangan,” ujarnya, Senin (3/11/2025) kemarin.

Menurutnya, kondisi ini juga berdampak pada fluktuasi hasil produksi. Produksi tertinggi tercatat pada bulan yang sama dengan puncak panen, yakni September, sebesar 8,01 ribu ton untuk jagung pipilan kadar air 28 persen.

Baca Juga  BPK Serahkan LHP Semester II 2025, Pemprov Kalteng Diminta Optimalkan Pajak dan Kualitas Belanja

Agnes menuturkan, hasil amatan KSA menunjukkan bahwa selama Januari–September 2025, luas panen jagung pipilan mencapai 7,78 ribu hektare. Sisanya, sekitar 1,73 ribu hektare, merupakan potensi panen hingga akhir tahun.

“Totalnya mencapai 9,51 ribu hektare atau naik 11,21 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan aktivitas budidaya jagung di Kalimantan Tengah masih menggeliat,” jelasnya.

Meski demikian, peningkatan luas panen belum berbanding lurus dengan produktivitas. “Faktor kesuburan tanah dan tingkat pemupukan masih menjadi tantangan di beberapa wilayah sentra,” ungkap Agnes.

Baca Juga  Junaidi Apresiasi BPK, LHP Jadi Cermin Perbaikan Tata Kelola Keuangan Kalteng

BPS juga menemukan, sebagian petani melakukan panen muda untuk kebutuhan pakan ternak, yang berdampak pada berkurangnya produksi pipilan kering. “Pola ini wajar, karena petani menyesuaikan dengan kebutuhan pasar lokal,” ujarnya.

Menurut Agnes, informasi detail dari survei KSA akan terus diperbarui untuk memastikan kebijakan pertanian berbasis data yang akurat.

“Kami terus mendorong penggunaan data statistik sebagai dasar perencanaan pembangunan pertanian berkelanjutan,” tandas Agnes. (Red/Adv)

+ posts