EKONOMI & BISNISHEADLINEPEMKOT PALANGKA RAYAPEMPROV KALIMANTAN TENGAH

Puncak Panen Jagung Kalteng Bergeser ke Bulan September

185
×

Puncak Panen Jagung Kalteng Bergeser ke Bulan September

Sebarkan artikel ini
FOTO Ist.: Kepala BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti.

PALANGKARAYA – Puncak panen jagung di Kalimantan Tengah tahun 2025 mengalami pergeseran signifikan. Jika tahun 2024 puncak panen terjadi pada Februari, maka tahun ini bergeser ke September dengan luas panen tertinggi mencapai 1,38 ribu hektare.

Kepala BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menyebutkan bahwa pergeseran musim tanam ini erat kaitannya dengan pola cuaca dan dinamika iklim lokal yang berubah. “Petani menyesuaikan waktu tanam agar sesuai dengan kondisi hujan dan ketersediaan air di lapangan,” ujarnya, Senin (3/11/2025) kemarin.

Baca Juga  Bangun Ekosistem Inovasi Berkelanjutan, Pemprov Kalteng Dorong Optimalisasi Sentra KI

Menurutnya, kondisi ini juga berdampak pada fluktuasi hasil produksi. Produksi tertinggi tercatat pada bulan yang sama dengan puncak panen, yakni September, sebesar 8,01 ribu ton untuk jagung pipilan kadar air 28 persen.

Agnes menuturkan, hasil amatan KSA menunjukkan bahwa selama Januari–September 2025, luas panen jagung pipilan mencapai 7,78 ribu hektare. Sisanya, sekitar 1,73 ribu hektare, merupakan potensi panen hingga akhir tahun.

Baca Juga  DPD RI Datangi OJK Kalteng, Soroti Kemudahan Pembiayaan UMKM

“Totalnya mencapai 9,51 ribu hektare atau naik 11,21 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan aktivitas budidaya jagung di Kalimantan Tengah masih menggeliat,” jelasnya.

Meski demikian, peningkatan luas panen belum berbanding lurus dengan produktivitas. “Faktor kesuburan tanah dan tingkat pemupukan masih menjadi tantangan di beberapa wilayah sentra,” ungkap Agnes.

BPS juga menemukan, sebagian petani melakukan panen muda untuk kebutuhan pakan ternak, yang berdampak pada berkurangnya produksi pipilan kering. “Pola ini wajar, karena petani menyesuaikan dengan kebutuhan pasar lokal,” ujarnya.

Baca Juga  Legislator Nilai Pemangkasan APBD 2026 Berisiko Perlambat Pemerataan Pembangunan di Kalteng

Menurut Agnes, informasi detail dari survei KSA akan terus diperbarui untuk memastikan kebijakan pertanian berbasis data yang akurat.

“Kami terus mendorong penggunaan data statistik sebagai dasar perencanaan pembangunan pertanian berkelanjutan,” tandas Agnes. (Red/Adv)