EKONOMI & BISNISHEADLINEPEMKOT PALANGKA RAYAPEMPROV KALIMANTAN TENGAH

Daging Ayam Ras dan SKM Dorong Kenaikan Inflasi Oktober di Kalteng

233
×

Daging Ayam Ras dan SKM Dorong Kenaikan Inflasi Oktober di Kalteng

Sebarkan artikel ini
FOTO Ist.: Kepala BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti

PALANGKARAYA – Inflasi di Provinsi Kalimantan Tengah pada Oktober 2025 menunjukkan peningkatan, dengan sejumlah komoditas utama menjadi penyebabnya. Di antara yang paling menonjol adalah daging ayam ras, Sigaret Kretek Mesin (SKM), dan emas perhiasan.

Kepala BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, mengungkapkan bahwa emas perhiasan memberikan andil inflasi tertinggi sebesar 0,58 persen, diikuti daging ayam ras 0,20 persen, dan SKM sebesar 0,17 persen.

“Komoditas tersebut berperan besar terhadap kenaikan indeks harga konsumen (IHK) Kalimantan Tengah yang pada Oktober 2025 mencapai 108,64 dengan inflasi year-on-year sebesar 2,73 persen,” ujar Agnes, Senin (3/11/2025).

Baca Juga  DPRD Dukung Rehabilitasi RSUD Muara Teweh Demi Pelayanan Lebih Berkualitas

Selain itu, beberapa bahan pokok seperti bawang merah, kopi bubuk, beras, dan minyak goreng juga mencatatkan peningkatan harga yang menambah tekanan inflasi daerah.

“Bawang merah sendiri memberi andil 0,14 persen terhadap inflasi tahunan, sedangkan beras berkontribusi sebesar 0,10 persen,” jelasnya.

Ia juga menyebut kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatatkan kenaikan tertinggi hingga 11,46 persen, terutama akibat meningkatnya harga emas perhiasan.

Baca Juga  Reses Komisi II DPR RI di Kalteng Fokus Percepat Reforma Agraria dan Penyelesaian Konflik Lahan

“Kelompok ini bahkan menyumbang 0,66 persen terhadap inflasi umum, yang turut menjaga laju harga tetap tumbuh,” tutur Agnes.

Meski begitu, sejumlah komoditas mengalami penurunan harga, sehingga memberikan andil deflasi. “Ikan nila, angkutan udara, dan bawang putih menjadi komoditas yang menekan inflasi, di mana ikan nila mencatat deflasi terbesar dengan andil minus 0,17 persen,” terangnya.

Agnes menegaskan pentingnya koordinasi lintas sektor untuk mengendalikan harga di pasar. “Keseimbangan harga harus dijaga, terutama menjelang akhir tahun, agar daya beli masyarakat tidak menurun,” tandas Agnes. (Red/Adv)

Baca Juga  Kunjungan Komisi II DPR RI ke Kalteng Perkuat Kolaborasi Agraria, Dorong Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah
+ posts