HEADLINEPEMKOT PALANGKA RAYA

Fenomena Panas Meluas, BMKG Imbau Warga Kalteng Waspada

252
×

Fenomena Panas Meluas, BMKG Imbau Warga Kalteng Waspada

Sebarkan artikel ini

PALANGKARAYA – Wilayah Kalimantan Tengah kini tengah dilanda cuaca panas ekstrem yang membuat suhu udara melonjak tinggi. Dalam sepekan terakhir, suhu maksimum di Kota Palangka Raya mencapai 36 derajat celcius menurut data BMKG.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut BMKG, Ika Priti, menyebutkan bahwa minimnya tutupan awan menjadi faktor utama meningkatnya suhu, belum lama ini.

“Energi matahari terserap langsung ke permukaan karena awan yang menutupi sinar matahari sangat sedikit,” ujar Ika.

Baca Juga  Inovasi Drive Thru Samsat Palangka Raya Dorong Kepatuhan Pajak dan Pangkas Antrean

Ia menambahkan, gerak semu matahari yang kini berada di selatan ekuator serta pengaruh Monsun Australia yang membawa udara kering memperparah kondisi panas di wilayah tersebut.

“Fenomena ini masih berpotensi berlangsung hingga akhir Oktober atau bahkan awal November mendatang,” jelasnya.

BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi hujan yang masih bisa terjadi di tengah kondisi panas. Prakiraan menunjukkan adanya peluang hujan lokal, terutama pada sore hingga malam hari.

Baca Juga  Harga Komoditas Picu Inflasi Kalteng Maret 2026 Meningkat

“Cuaca panas tidak meniadakan kemungkinan turunnya hujan. Sebagian wilayah Kalteng masih berpotensi hujan ringan hingga lebat,” ucapnya.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menuturkan bahwa gejala serupa juga meluas ke sejumlah daerah lain seperti Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua.

Baca Juga  Usai Lebaran, Gubernur Kalteng Ingatkan ASN Tingkatkan Kinerja dan Kawal KHBS Tepat Sasaran

“Panas ini merupakan gabungan dari posisi gerak semu matahari dan monsun Australia yang membuat pembentukan awan berkurang drastis,” terangnya.

BMKG meminta warga untuk tetap menjaga kondisi tubuh, cukup minum air, dan menghindari paparan langsung sinar matahari di tengah hari. “Kewaspadaan tetap penting di tengah perubahan cuaca ekstrem,” tandas Guswanto. (Red/Adv)